HOME DEPAN PDF Cetak
Friday, 28 August 2009

 

 
 
galungan
 
Galungan dan Kuningan tonggak kesadaran Dharma
Hari raya Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu adalah hari kejayaan, hari kemenangan. Hari raya ini di India disebut Sràddha Vijaya Dasami, yakni hari kemenangan yang dirayakan selama 10 hari. Di India Timur disebut juga dengan nama Navaràtri atau Durgà Pùjà. Navaràtri adalah perayaan yang berlangsung selama 9 hari dan pada hari ke 10 diakhiri dengan Durgà Pùjà. Durgà Pùjà
merupakan hari pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai seorang ibu yang cantik, mengendarai seekor singa, bertangan 8 dan masing-masing tangannya membawa berbagai senjata pemberian para dewata yang menunjukkan kekuasaan-Nya yang tidak dapat dikalahkan oleh siapapun.
Hari raya Sràddha Vijaya Dasami (umumnya dirayakan di seantero India,
dikaitkan dengan kemenangan Sri Ràma melawan Ravana), sedang Durgà Pùjà dikaitkan dengan kemenangan dewi Durgà menghadapi raksasa yang bernama Raktavijaya yang berwujud seekor kerbau (mahisa asura) yang sangat sakti. Raksasa ini hanya bisa ditumpas oleh dewi Durgà, rupanya dewi ini kewalahan menghadapinya. Mengatasi situasi itu maka berdatanganlah para dewa Asþadikpàlaka dari 8 penjuru memberikan bantuan berupa berbagai senjata. Saat itu dari tubuh dewi Durgà muncul 6 tangan (di samping 2 tangan-Nya yang asli) memegang senjata para dewa tersebut. Kemudian raksasa tersebut berhasil dibunuh oleh dewi Durgà, karena itu dewi dikenal pula dengan nama Mahisa-asura-mardini (yang membunuh raksasa dalam wujud seekor kerbau).
Pemujaan kepada dewi Durgà ini sangat populer di India sejak masa yang silam hingga kini. Rupanya di Indonesia pemujaan kepada dewi Durgà juga sangat populer, terutama bila kita melihat peninggalan purbakala berupa banyaknya arca-arca Durgà-mahisa-asura-mardini di beberapa tempat di Jawa Tengah, Jawa-Timur dan Bali. Di Bali pemujaan kepada dewi Durgà rupanya menjadi tonggak perayaan Galungan dan Kuningan secara besar-besaran pada saat Mahendradattà yang dikenal juga dengan nama Gunapriyà Dharmapatnì,
permaisuri raja agung Dharma Udayana Varmadeva meninggal dunia dan setelah upacara Ngaben dan Nyekah selanjutnya disthanakan dalam upacara Devapitrapratiûþha (ngaliggihang dewa hyang) di Burwan, Kutri, Gianyar, diarcakan dalam wujud Durgà-mahisa-asura-mardini. Di dalam beberapa prasasti peninggalan raja Dharma Udayana Varmadeva (yang meninggal belakangan dari permaisurinya) disebutkan "añucyaken pitra, angaturaken tarpana dewì".

Upacara "añucyaken pitra" mengandung makna yang sama atau dekat dengan
upacara Úràddha, yaitu mempersembahkan sesajen (dan penyucian) kepada para leluhur pada hari raya Galungan, sedang "angaturaken tarpana dewì" adalah upacara persembahan kepada dewi Durgà dengan ciri khas persembahan berupa daging babi. Sejak saat itu, kiranya perayaan Galungan dan Kuningan secara besar-besaran dirayakan di Bali, sedang informasi lainnya dapat ditemukan dalam lontar "Pañji Amalat Raúmi", yang juga menceritrakan perayaan Galungan dan Kuningan tersebut.
 
 


Apakah saat atau bulan pada hari raya Galungan dan Kuningan bersamaan dengan berlangsungnya hari raya Sràddha Vijaya Dasami? Untuk dimaklumi bahwa sistem kalender yang digunakan oleh umat Hindu di India dan Bali berbeda. Di India dalam sistem kalendernya tidak menggunakan perhitungan Wuku (tahun yang datangnya setiap 210 hari sekali), tetapi menggunakan tahun surya (solar sistem) yang datangnya 12 bulan sekali. Hari raya Sràddha Vijaya Dasami pada umumnya jatuh pada bulan September-Oktober (Vettam Mani, 1989: 853). Kenapa
perayaan Galungan dan Kuningan tidak jatuh bersamaan seperti halnya di
India. Hal ini dapat dijelaskan, bahwa sebelum agama Hindu masuk ke
Indonesia, bangsa Indonesia asli telah memiliki sistem kalender yang
dikalangan orientalis disebut Bali-Javano-calender yang kita kenal dengan tahun Wuku. Rupanya atas dasar untuk segera memperibumikan ajaran agama Hindu, maka leluhur bangsa Indonesia yang seegara memeluk agama Hindu, memasukkannya dalam sistem Kalender tersebut, dimulai dengan hari pemujaan Sarasvati yang jatih pada hari terakhir dari Wuku terakhir dan hari pertama dari Wuku pertama, pemujaan kepada dewi Úrì dan Lakûmì hari kedua dan ketiga
Wuku pertama dan hari pemujaan kepada Guru (Pamaesti Guru/Guru Tertinggi) pada hari ke-4 Wuku pertama, selanjutnya hari Galungan dijatuhkan sebulan kemudian (35 hari) setelah pemujaan terhadap Paramesti Guru, yang dimulai dengan Tumpek Wariga (Úaòkarapùjà), 30 hari kemudian adalah Pamacekan Agung dan berakhir 30 hari setelah Pamacekan Agung, yakni waktu hari Buda Kliwon Pahang (Pegatwakan). Dengan demikian sejak persiapan sampai hari terakhir setelah Kuningan berlangsung selama 60 hari.

 
galungan di prambanan

 
Hari raya Galungan dan Kuningan menurut lontar Usana Bali dikaitkan dengan mitos kemenangan dewa Indra melawan Mayadanava dengan kemenangan di pihak dewa Indra. Ada dugaan bahwa dewa Indra dimaksud adalah Indra(Chandra) bhaya Varmadeva yang dipercaya membangun tempat suci patìrthan Tìrtha Empul, Tampaksiring, Gianyar.
Makna hari raya Galungan dan Kuningan dinyatakan sebagai kemenangan Dharma (kebajikan) melawan Adharma (kebathilan/kejahatan), pertempuran antara sifat-sifat jahat dengan sifat-sifat baik, dengan kemenangan pada sifat-sifat yang baik. Mitos raksasa menggambarkan sifat Asurisampat yang merupakan salah satu dari kecenderungan yang terdapat pada diri manusia, di samping Daivisampat, yakni sifat-sifat yang baik sebagai perwujudan ajaran
Dharma. Pergulatan yang dapat dianalogikan dengan perang Bhàratayuddha
selalu berlangsung pada diri setiap umat manusia. Seseorang yang senantiasa berjalan dijalan Dharma, berpegang kepada ajaran Dharma, akan mendapat perlindungan dari Dharma (Dharmaý raksati raksitaá).
Lebih jauh pengertian tentang Dharma dinyatakan dalam Mahàbhàrata, sebagai berikut:


"prabhavàrthàya bhùtànàý
dharmapràvanaý kåtaý,
yaá syàt prabhava saýyuktaá
sa dharmaá itu niscayaá".

Sàntiparva 109.10.

(Segala kegiatan demi kesejahtraan dan
kebahagiaan semua mahluk, semuanya itu
disebut Dharma. Tiada disangsikan lagi
apapun yang bertalian dengan kesejahtraan
untuk sesama, itulah Dharma).

"Dharma eva plavo nànyaá
svargaý samabhivaý ca taý
sàdhanor vanijaú ca taý
jaladheá param icchataá"

Sàrasamuccaya 14.

(Dharma itu adalah suatu sarana untuk mencapai
sorga, bagaikan perahu yang menjadi sarana para
pedagang untuk menyeberangi samudra)

"Vedapramànakaá sreyaá
sàdhanaý dharmaá".

Mànusaýhità 1.

(Dharma (disebut) di dalam kitab suci Veda,sebagai
jalan untuk mencapai Sreyaá (kesejaheraan, kebahagiaan
dan kesempurnaan yang sejati).

"Dharmo visvasya jagataá pratisthà
loke dharmisthaý prajà upasarpanti,
Dharmena pàpam apanudanti dharme sarvaý
pratisthaý tasmad dharmaý paramaý vadanti".

Mahànàràyanopaniûad XXII.1.

(Dharma adalah prinsip dasar yang bergerak dan tidak bergerak
di dunia ini. Di dunia, manusia hendaknya bergairah mengikuti
Dharma. Mereka membebaskan dirinya dari dosa-dosa dengan
Dharma.Segala sesuatunya berjalan mantap atas dasar Dharma.
Untuk itu patutlah Dharma disebut yang tertinggi).

Dalam pengertian yang sempit Dharma Dharma juga disebut sebagai sebagai hukum atau kewajiban, diuraikan dalam kitab-kitab Itihàsa maupun Dharmasàstra, antara lain :

"Dhàranàd dharmam itàyahur
dharmena vidhritàá prajàá,
Yas syàt dhàrana-samyuktas
sa dharma iti nischayaá.

Mahàbhàrata Sàntiparva 109.11.

(Dharma disebut demikian karena melindungi segalanya,
Dharma memelihara segala yang diciptakan oleh-Nya.
Dharma adalah prinsip dasar yang menjamin keharmonisan
di alam semesta).

"Dharmenaivarsayas tìróà
dharme lokàá pratiûaþhitàá,
dharmena devà vavridhur
dharme chàrthaá samàhitaá.

Tasmàd dharmapradhànena
bhavitayaý yatàtmanà".

Mahàbhàrata Sàntiparva 97,7,9.

(Hanya dengan Dharma, para Rsi dapat menyeberangi
(dunia penjelmaan dan kematian), mencapai Moksa,
kokohnya dunia, tergantung atas Dharma.
Oleh karena itu kita harus hidup dengan mengendalikan
diri dan mengutamakan pelaksanaan Dharma).


"Idàniý dharma pramànànyàha :
Vedo'khilo dharmamùlaý
småti sìle ca tadvidam,
àcàraúcaiva sàdhùnàm
àtmanastuthir eva ca.

Manavadharmaúàstra II.6.

(Seluruh pustaka suci Veda adalah sumber pertama dari
Dharma, kemudian tradisi(adat-istiadat),tingkah laku orang
terpuji dari orang - orang budiman yang mendalami Veda,
juga kebiasaan orang - orang suci dan akhirnya kepuasan diri).

"Dharma eva hato hanti
dharmo raksati raksitaá,
tasmàd dharmo na hantavyo
màbo dharmo hato'vadhìt.

Manavadharmasàstra VIII.15.
(Dharma yang dilanggar menghancurkan pelanggarnya,
Dharma yang dipelihara akan memeliharanya, oleh karena
itu Dharma jangan dilanggar, melanggar Dharma akan
menghancurkan diri sendiri).


Berdasarkan kutipan tersebut, maka Dharma mengandung pengertian yang sangat luas, yakni segala aspek kehidupan, utamanya kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan bahkan pergaulan antar sesama umat manusia. Selanjutnya tentang penjabaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari, dinyatakan dalam Vhaspati Tattwa 26, meliputi: Úìla (bertingkah laku yang baik), Yajña (melakukan korban suci dan mengembangkan kasih sayang), Tapa (pengendalian diri), Dàna (memberikan bantuan materi, pendidikan dan moralitas), Pravåjya (tekun menambah pengetahuan), Diksà (menyucikan diri) dan Yoga (senantiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa).

Dari uraian tersebut di atas, jelas bagi kita istilah atau kata Dharma mengandung pengertian dan penjabarannya sangat kompleks. Galungan dan Kuningan disebut sebagai hari kemenangan Dharma, maka pada hakekatnya adalah hari tekadnya moralitas dan integritas umat manusia. Dengan perayaan Galungan dan Kuningan yang secara berulang-ulang, mengingatkan umat Hindu betapa pentingnya umat manusia untuk senantiasa berjalan di jalan Dharma yang akan memberikan jaminan hidup dan kehidupan guna mewujudnyatakan kesejahtraan dan kebahagiaan yang sejati.
 
 
sumber : http://www.iloveblue.com
 

 

 

 

 

 

Suksesi TPKH-ITS Kepengurusan 2009 - 2010

Sabtu 15 Mei 2010

 

 

 

 

 

 

 

TPKH ITS MENGUCAPKAN

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

12 Mei 2010

 
TPKH-ITS, Powered by Joomla!; Joomla templates by SG web hosting